DI SEBERANG WADUK
PLUIT
OLEH : ALVI
SYAHRY[1]
STUDI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL, UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
Jakarta, merupakan kota yang memiliki tingkat
kepadatan penduduk yang cukup tinggi, jika dibandingkan dengan kota lain di
Indonesia. Sangat beragam sekali maksud dan tujuan untuk datang ke ibukota
Indonesia. Hal yang paling utama pendatang untuk datang ke Jakarta yaitu untuk
mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi dari pendapatan sebelumnya yang mereka
dapatkan di daerah asal. Memang tidak ada salahnya pendatang dari daerah lain
untuk mencari rezekinya ke kota Jakarta. Namun, jika banyak sekali harapan akan
kota Jakarta, dampak apa yang akan terjadi?. Kepadatan lah yang akan menjadi
ancaman bagi Ibukota, kepadatan yang terus terjadi akan membawa dampak buruk
jika kesenjangan masih sangat jelas terlihat. Pemukiman kumuh menjadi salah
satu bukti nyata akibat dari adanya kepadatan penduduk. Pendatang yang secara
ekonomi tidak siap untuk tinggal di Ibukota berbagai cara pun mereka lakukan
untuk tetap bisa tinggal di Jakarta. Jakarta telah menjadi tantangan bagi
mereka yang ingin berhadapan dengan kerasnya ibukota. Mereka yang berhasil
masih bisa memiliki rumah walaupun hanya sewa. Namun, meraka yang tidak
berhasil. Apakah mereka kembali ke daerah asalnya?. Ya, meraka lebih memilih
untuk tetap tinggal di Jakarta walau hanya memiliki lahan yang tidak resmi di
pinggiran sungai, atau waduk.
Jumat siang, saya berkesempatan untuk datang melakukan
observasi di wilayah waduk pluit Jakarta Utara. Waduk yang telah mengalami
pendangkalan sekarang telah menjadi perhatian pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Berbagai cara dan upaya telah di lakukan oleh pemerintah untuk menjadi kan
waduk pluit dapat difungsikan sebagaimannya fungsi waduk. Waduk yang memiliki
total seluruh wilayah sekitar 80 hektar seharusnya dapat menjadi penampung air
ketika terjadinya hujan. Namun, pada kenyatannya tidak seluruh daerah waduk
pluit difungsikan sebagai penampungan air. Sebagian wilyah waduk masih banyak
terdapat pemukiman kumuh yang seharusnya tidak dibangun dipinggiran waduk
pluit. Menurut sumber informasi yang saya dapatkan, kondisi tersebut sudah
berkembang baik dibandingkan dengan kondisi sebelum pemerintahan mantan
gurbernur DKI Jakarta yaitu pada masanya Bapak Jokowi dan Bapak Basuki Tjahya
pernama atau yang biasa dikenal saat itu (AHOK)[2]. Kedisiplinan yang
dibangunan saat masa pemerintahannya berdampak baik bagi perluasan fuungsi
waduk pluit dan menjadikannya taman kota di wilayah Jakarta Utara.
Gambar 1.1 Hasil dokumentasi
penulis
Banyaknya
penduduk yang menempati wilayah sekitaran waduk menjadi bukti ketidaksiapan
mereka secara ekonomi untuk hidup di Ibukota. Sampai saat ini pemukiman kumuh
di sekitar waduk pluit masih menempati dan melakukan aktivitas sepeti biasanya.
Masih adanya pemukiman kumuh di waduk pluit disebabkan pergantiannya
kepemimpinan Basuki Tjahya Purnama yang di gantikan oleh Bapak Anies Baswedan.
Menurut sumber di lapangan yang saya dapatkan informan mengatakan sampai saat
ini pada masa pemerintahan Bapak Anies belum ada tindak lanjut untuk
penggusuran pemukiman kumuh di sekitar waduk hanya berupa janji yang diucapkan.
Sebelumnya warga yang sudah digusur akan dipindahkan ke rumah susun yang telah
disediakan oleh pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Gambar 1.2 Hasil dokumentasi penulis
Waduk
pluit sampai saat ini masih menyisakan kehidupan pemukiman kumuh yang
seharusnya berfungsi sebagai penampungan air hujan. Kesadaran akan pentingnya
menjaga lingkungan di wilayah pemukiman kumuh dapat dikatakan masih rendah.
Dapat dibuktikan saat ketika penulis melakukan observasi ke lapangan dan
melihat saluran air sudah berisi sampah plastik yang menyumbat saluran air.
Bahkan ketika penulis hadir masih saja ada yang membuang sampah ke saluran air
secara diam – diam. Penulis tidak menyimpulkan bahwa semua warga pemukiman
kumuh membuang sampah sembarang atau di sauluran air, sama sekali tidak.
Penulis yakin masih ada orang baik yang peduli akan lingkungannya. Namun, tanah
yang mereka tempati merupakan tanah milik negara yang harus dikembalikan.
Pemerintah telah meyediakan rumah susun yang lebih layak untuk mereka jadikan
tempat tinggal.
kepadatan
penduduk telah mengakibatkan adanya pemukiman kumuh seperti halnya pemukiman
kumuh yang berada di waduk pluit, Jakarta utara. Pemukiman kumuh yang berada di
sekitar waduk di bangun dengan bahan bangunan yang seadanya. Serta kondisi
lingkungan sekitar pemukiman yang masih adanya sampah berserakan, seperti
halnya di saluran air yang sudah mampat. Meskipun warga menyatakan bahwa sudah
ada petugas sampah setiap minggunya yang mengangkut sampah rumah tangga meraka,
tetatpi kesadaran akan lingkungan sekitar masih kurang.
Waduk
pluit saat ini memang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi saat
pemukiman kumuh masih menempatinya. Sekarang waduk pluit telah menjadi taman
kota yang sangat ramai ketika sore datang. Banyak sekali para wisatawan yang
datang untuk menikmati keramaian waduk pluit. Tidak hanya itu sekarang pedagang
kaki lima juga menjajahkan jualannya ketika sore hari, ketika masa pemerintahan
Bapak Basuki Tjahya Purnama, waduk pluit bebas dari pedang kaki lima. Ini yang
membedakan gaya pemerintahan masa Bapak Basuki Tjahya Purnama dengan Bapak
Anies Baswedan. Memang para pedagang lebih merasakan kebebasan saat tergantinya
kepemimpinan Bapak Basuki Tjahya Purnama, untuk menjajahkan jualannya di waduk
pluit tanpa ketakutan untuk diangkut oleh petugas. Kondisi lingkungan taman
kota waduk pluit pun bisa dikatakan cukup baik, karena bisa dilihat tidak
adanya sampah yang mengganggu kegiatan kita saat menikmati taman kota waduk
pluit, tetapi kadang masih ada yang membuat tidak nyaman, yaitu kadang masih
tercium bau yang tidak sedap dari waduk. Tetapi jika kita tidak terlalu dekat
dengan waduk bau pun tidak tercium. Pengunjung waduk pluit mulai sadar akan bahayanya
sampah yang mengganggu lingkungan. Begitupun pedagang yang menjajahkan
jualannya juga sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan.
Penulis
bersyukur akan perilaku yang dilakukan oleh para pengunjung waduk pluit yang
menjaga lingkungan sekitar waduk dengan tidak membuang sampah sembarangan.
serta berperilaku baik terhadap lingkungan dan fasilitas umum waduk. Namun,
disisi lain waduk pluit masih ditempati oleh pemukiman kumuh yang dapat
mengganggu kondisi waduk. Menurut Peraturan Pemprov DKI Jakarta yang diatur
oleh pemerintah Provinsi DKI bahawa waduk pluit memiliki anggaran yang cukup
besar untuk dikembalikan funsginya sebagai waduk dan menggusur pemukiman kumuh
yang masih ada disekitar waduk[3].
Dalam hal ini saran yang dapat penulis masukan yaitu ketegasan dan kosistensi
pemerintah harus dijaga ketika suatu hal yang sudah direncanakan harus
dilaksanakan. Waduk pluit ini merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Pemprov DKI Jakarta. Maka dari itu terutama masyarakat sekitar waduk
pluit yang belum digusur harus mendukung program pemerintah yang telah dibuat.
Dengan adanya umpan balik antara masyarakat dan pemerintah penulis yakin akan
terciptanya waduk pluit yang lebih baik, nyaman, dan kembalinya sebagai fungsi
waduk. Kita tidak boleh merasa puas akan suatu hal saja, tetapi kita harus
melihat sisi lain juga apakah sudah baik atau belum. Kesadaran dan kepedulian
akan sesama menjadi kunci dari terjalinnya hubungan kita dengan lingkungan.
Lingkungan tidak akan memberikan dampak negatif kalau kita tidak memberikan hal
yang buruk terhadap lingkungan. Kita hidup tidak hanya mencintai manusia,
mencintai manusia sudah hal yang biasa, bahkan bisa membuat kita menjadi gila
akan cinta. Namun, mencintai lingkungan akan membawakan dampak positif terhadap
kehidupan kita bahkan orang lain. Kalua pun cinta kita berlebihan terhadap
lingkungan, tidak mengapa. Itu bukan merupakan suatu masalah. Karena kita akan
menjadi manusia yang paling peduli akan lingkungan.
#SALAMLESTARI #MATAKULIAHKLHS
#LINGKUNGANADALAHKITA
#KITAPEDULILINGKUNGANWADUK
#WADUKPLUIT
#WADUKKITA
Sumber Refrensi :
1.
Hasil wawancara
dengan warga sekitar waduk pluit
2.
Notulensi Rapat Pimpinan
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Tahun 2013
[1] Mahasiswa S1 Pendidikan Ilmu Pengetahuan, Fakultas Ilmu Sosial,
Universitas Negeri Jakarta
[2] Hasil wawancara
Penulis dengan warga waduk pluit
[3] Notulensi Rapat Pimpinan
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Tahun 2013

