Jumat, 19 Juli 2019

DI SEBERANG WADUK PLUIT


DI SEBERANG WADUK PLUIT
OLEH : ALVI SYAHRY[1]
STUDI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL, UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

Jakarta, merupakan kota yang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi, jika dibandingkan dengan kota lain di Indonesia. Sangat beragam sekali maksud dan tujuan untuk datang ke ibukota Indonesia. Hal yang paling utama pendatang untuk datang ke Jakarta yaitu untuk mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi dari pendapatan sebelumnya yang mereka dapatkan di daerah asal. Memang tidak ada salahnya pendatang dari daerah lain untuk mencari rezekinya ke kota Jakarta. Namun, jika banyak sekali harapan akan kota Jakarta, dampak apa yang akan terjadi?. Kepadatan lah yang akan menjadi ancaman bagi Ibukota, kepadatan yang terus terjadi akan membawa dampak buruk jika kesenjangan masih sangat jelas terlihat. Pemukiman kumuh menjadi salah satu bukti nyata akibat dari adanya kepadatan penduduk. Pendatang yang secara ekonomi tidak siap untuk tinggal di Ibukota berbagai cara pun mereka lakukan untuk tetap bisa tinggal di Jakarta. Jakarta telah menjadi tantangan bagi mereka yang ingin berhadapan dengan kerasnya ibukota. Mereka yang berhasil masih bisa memiliki rumah walaupun hanya sewa. Namun, meraka yang tidak berhasil. Apakah mereka kembali ke daerah asalnya?. Ya, meraka lebih memilih untuk tetap tinggal di Jakarta walau hanya memiliki lahan yang tidak resmi di pinggiran sungai, atau waduk. 
Jumat siang, saya berkesempatan untuk datang melakukan observasi di wilayah waduk pluit Jakarta Utara. Waduk yang telah mengalami pendangkalan sekarang telah menjadi perhatian pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Berbagai cara dan upaya telah di lakukan oleh pemerintah untuk menjadi kan waduk pluit dapat difungsikan sebagaimannya fungsi waduk. Waduk yang memiliki total seluruh wilayah sekitar 80 hektar seharusnya dapat menjadi penampung air ketika terjadinya hujan. Namun, pada kenyatannya tidak seluruh daerah waduk pluit difungsikan sebagai penampungan air. Sebagian wilyah waduk masih banyak terdapat pemukiman kumuh yang seharusnya tidak dibangun dipinggiran waduk pluit. Menurut sumber informasi yang saya dapatkan, kondisi tersebut sudah berkembang baik dibandingkan dengan kondisi sebelum pemerintahan mantan gurbernur DKI Jakarta yaitu pada masanya Bapak Jokowi dan Bapak Basuki Tjahya pernama atau yang biasa dikenal saat itu (AHOK)[2]. Kedisiplinan yang dibangunan saat masa pemerintahannya berdampak baik bagi perluasan fuungsi waduk pluit dan menjadikannya taman kota di wilayah Jakarta Utara.


Gambar 1.1 Hasil dokumentasi penulis
Banyaknya penduduk yang menempati wilayah sekitaran waduk menjadi bukti ketidaksiapan mereka secara ekonomi untuk hidup di Ibukota. Sampai saat ini pemukiman kumuh di sekitar waduk pluit masih menempati dan melakukan aktivitas sepeti biasanya. Masih adanya pemukiman kumuh di waduk pluit disebabkan pergantiannya kepemimpinan Basuki Tjahya Purnama yang di gantikan oleh Bapak Anies Baswedan. Menurut sumber di lapangan yang saya dapatkan informan mengatakan sampai saat ini pada masa pemerintahan Bapak Anies belum ada tindak lanjut untuk penggusuran pemukiman kumuh di sekitar waduk hanya berupa janji yang diucapkan. Sebelumnya warga yang sudah digusur akan dipindahkan ke rumah susun yang telah disediakan oleh pemerintah Provinsi DKI Jakarta.


Gambar 1.2 Hasil dokumentasi penulis
Waduk pluit sampai saat ini masih menyisakan kehidupan pemukiman kumuh yang seharusnya berfungsi sebagai penampungan air hujan. Kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan di wilayah pemukiman kumuh dapat dikatakan masih rendah. Dapat dibuktikan saat ketika penulis melakukan observasi ke lapangan dan melihat saluran air sudah berisi sampah plastik yang menyumbat saluran air. Bahkan ketika penulis hadir masih saja ada yang membuang sampah ke saluran air secara diam – diam. Penulis tidak menyimpulkan bahwa semua warga pemukiman kumuh membuang sampah sembarang atau di sauluran air, sama sekali tidak. Penulis yakin masih ada orang baik yang peduli akan lingkungannya. Namun, tanah yang mereka tempati merupakan tanah milik negara yang harus dikembalikan. Pemerintah telah meyediakan rumah susun yang lebih layak untuk mereka jadikan tempat tinggal.
kepadatan penduduk telah mengakibatkan adanya pemukiman kumuh seperti halnya pemukiman kumuh yang berada di waduk pluit, Jakarta utara. Pemukiman kumuh yang berada di sekitar waduk di bangun dengan bahan bangunan yang seadanya. Serta kondisi lingkungan sekitar pemukiman yang masih adanya sampah berserakan, seperti halnya di saluran air yang sudah mampat. Meskipun warga menyatakan bahwa sudah ada petugas sampah setiap minggunya yang mengangkut sampah rumah tangga meraka, tetatpi kesadaran akan lingkungan sekitar masih kurang.
Waduk pluit saat ini memang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi saat pemukiman kumuh masih menempatinya. Sekarang waduk pluit telah menjadi taman kota yang sangat ramai ketika sore datang. Banyak sekali para wisatawan yang datang untuk menikmati keramaian waduk pluit. Tidak hanya itu sekarang pedagang kaki lima juga menjajahkan jualannya ketika sore hari, ketika masa pemerintahan Bapak Basuki Tjahya Purnama, waduk pluit bebas dari pedang kaki lima. Ini yang membedakan gaya pemerintahan masa Bapak Basuki Tjahya Purnama dengan Bapak Anies Baswedan. Memang para pedagang lebih merasakan kebebasan saat tergantinya kepemimpinan Bapak Basuki Tjahya Purnama, untuk menjajahkan jualannya di waduk pluit tanpa ketakutan untuk diangkut oleh petugas. Kondisi lingkungan taman kota waduk pluit pun bisa dikatakan cukup baik, karena bisa dilihat tidak adanya sampah yang mengganggu kegiatan kita saat menikmati taman kota waduk pluit, tetapi kadang masih ada yang membuat tidak nyaman, yaitu kadang masih tercium bau yang tidak sedap dari waduk. Tetapi jika kita tidak terlalu dekat dengan waduk bau pun tidak tercium. Pengunjung waduk pluit mulai sadar akan bahayanya sampah yang mengganggu lingkungan. Begitupun pedagang yang menjajahkan jualannya juga sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan.
Penulis bersyukur akan perilaku yang dilakukan oleh para pengunjung waduk pluit yang menjaga lingkungan sekitar waduk dengan tidak membuang sampah sembarangan. serta berperilaku baik terhadap lingkungan dan fasilitas umum waduk. Namun, disisi lain waduk pluit masih ditempati oleh pemukiman kumuh yang dapat mengganggu kondisi waduk. Menurut Peraturan Pemprov DKI Jakarta yang diatur oleh pemerintah Provinsi DKI bahawa waduk pluit memiliki anggaran yang cukup besar untuk dikembalikan funsginya sebagai waduk dan menggusur pemukiman kumuh yang masih ada disekitar waduk[3]. Dalam hal ini saran yang dapat penulis masukan yaitu ketegasan dan kosistensi pemerintah harus dijaga ketika suatu hal yang sudah direncanakan harus dilaksanakan. Waduk pluit ini merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Pemprov DKI Jakarta. Maka dari itu terutama masyarakat sekitar waduk pluit yang belum digusur harus mendukung program pemerintah yang telah dibuat. Dengan adanya umpan balik antara masyarakat dan pemerintah penulis yakin akan terciptanya waduk pluit yang lebih baik, nyaman, dan kembalinya sebagai fungsi waduk. Kita tidak boleh merasa puas akan suatu hal saja, tetapi kita harus melihat sisi lain juga apakah sudah baik atau belum. Kesadaran dan kepedulian akan sesama menjadi kunci dari terjalinnya hubungan kita dengan lingkungan. Lingkungan tidak akan memberikan dampak negatif kalau kita tidak memberikan hal yang buruk terhadap lingkungan. Kita hidup tidak hanya mencintai manusia, mencintai manusia sudah hal yang biasa, bahkan bisa membuat kita menjadi gila akan cinta. Namun, mencintai lingkungan akan membawakan dampak positif terhadap kehidupan kita bahkan orang lain. Kalua pun cinta kita berlebihan terhadap lingkungan, tidak mengapa. Itu bukan merupakan suatu masalah. Karena kita akan menjadi manusia yang paling peduli akan lingkungan.

#SALAMLESTARI   #MATAKULIAHKLHS
#LINGKUNGANADALAHKITA
#KITAPEDULILINGKUNGANWADUK
#WADUKPLUIT
#WADUKKITA
Sumber Refrensi :

1.      Hasil wawancara dengan warga sekitar waduk pluit
2.      Notulensi Rapat Pimpinan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Tahun 2013


[1] Mahasiswa S1 Pendidikan Ilmu Pengetahuan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta
[2] Hasil wawancara Penulis dengan warga waduk pluit
[3] Notulensi Rapat Pimpinan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Tahun 2013